
Sophrology – Satu dari tiga orang dewasa di dunia mengalami masalah gigi sensitif. Namun, banyak yang masih menganggapnya sebagai hal sepele atau bagian alami dari proses penuaan.
Padahal, gigi sensitif bisa menjadi tanda awal melemahnya enamel dan terbukanya dentin. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisinya dapat semakin memburuk.
Studi terbaru pada awal 2024 mengungkap bahwa 9 dari 10 penderita gigi sensitif mengalami penurunan kualitas hidup yang signifikan. Sebanyak 93 persen responden menyatakan bahwa gigi sensitif mengurangi kenyamanan saat makan dan minum.
Temuan ini berasal dari studi kolaborasi antara Haleon, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), dan IQVIA. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak sensitivitas gigi pada masyarakat Indonesia serta menilai efektivitas pasta gigi khusus gigi sensitif sebagai solusi yang tepat sasaran dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap kesehatan gigi.
Dr. drg. Fatimah Maria Tadjoedin, Sp. Perio(K), pakar dan akademisi dari FKG UI, menjelaskan bahwa gigi sensitif bukan sekadar ketidaknyamanan sementara, tetapi kondisi yang berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.
“Banyak penderita gigi sensitif tanpa sadar menghindari makanan tertentu, mengubah kebiasaan makan, atau bahkan menarik diri dari kegiatan sosial, daripada mencari solusi untuk mengatasi akar permasalahannya,” ujar Fatimah dalam keterangan pers, Senin (24/4/2025).
Dampak Psikologis Gigi Sensitif
Fatimah menekankan pentingnya kesadaran bahwa gigi sensitif dapat dikelola dengan perawatan yang tepat.
“Menggunakan pasta gigi khusus, menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik, serta berkonsultasi dengan dokter gigi dapat membawa perubahan besar bagi kesehatan gigi jangka panjang dan kesehatan kita secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain dampak fisik, studi ini juga mengungkap bahwa gigi sensitif memiliki pengaruh psikologis yang signifikan, terutama pada kesehatan emosional dan kepercayaan diri dalam bersosialisasi.
Sebanyak 92 persen responden menganggap sensitivitas gigi sebagai gangguan yang menghambat aktivitas sehari-hari. Sementara itu, 86 persen merasa cemas akan rasa sakit saat makan, yang membuat banyak dari mereka menghindari acara sosial dan hidup dalam ketidaknyamanan.
Cara Merawat Gigi Sensitif

Karena itu, gigi sensitif harus dikelola dengan baik, bukan diabaikan.
Menjaga kebersihan gigi dengan benar, termasuk menggunakan pasta gigi khusus yang terbukti secara klinis, berperan penting dalam mengurangi sensitivitas gigi. Para ahli juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran, salah satunya melalui inisiatif seperti Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia.
Dengan mengambil langkah nyata untuk mencari solusi, bukan sekadar beradaptasi dengan ketidaknyamanan, masyarakat dapat menikmati kehidupan sehari-hari dengan lebih nyaman dan percaya diri, tanpa gangguan gigi sensitif.
“Kami selalu memprioritaskan kebutuhan konsumen dengan menghadirkan solusi berkualitas terbaik, sehingga mereka dapat mengelola kesehatan gigi lebih baik. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa 98 persen pengguna mengalami perbaikan pada masalah gigi sensitif setelah menggunakan pasta gigi khusus,” ujar General Manager Haleon Indonesia, Dhanica Mae Dumo-Tiu, dalam keterangan pers, Senin (24/3/2025).