
Sophrology – Padel kini bukan hanya sekadar olahraga, tetapi telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup modern. Popularitasnya kian meningkat karena mudah dimainkan, membutuhkan lapangan yang relatif kecil, serta menyenangkan bila dilakukan bersama teman. Tak hanya berolahraga, banyak orang memanfaatkannya untuk membangun relasi sosial.
Dari sisi kesehatan, padel menawarkan berbagai manfaat, terutama bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas. dr. Oryza Satria, Spesialis Ortopedi Konsultan Hand & Microsurgery Rumah Sakit Pondok Indah, menjelaskan bahwa padel efektif menjaga kebugaran jantung dan paru-paru. Selain itu, olahraga ini mampu membakar 400–600 kalori per jam, sekaligus melatih refleks dan koordinasi motorik karena melibatkan hampir seluruh anggota tubuh.
“Padel juga bermanfaat bagi kesehatan mental dan sosial, sehingga seseorang tidak merasa tertinggal tren,” ujar dr. Oryza kepada Anugerahslot health dalam wawancara eksklusif mengenai risiko cedera padel.
Tak mengherankan, banyak orang menjadikan padel sebagai sarana untuk mengatasi stres atau burnout, sembari memperluas jaringan pertemanan. Dengan keseruan yang ditawarkan sekaligus manfaat fisik dan mental, padel layak disebut sebagai olahraga lengkap untuk menunjang keseimbangan hidup.
Tren Padel Picu Lonjakan Cedera, Dokter Ingatkan Risiko

Di balik popularitasnya, tren olahraga padel ternyata membawa risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang yang ikut bermain hanya karena rasa takut ketinggalan tren (FOMO), tanpa persiapan fisik yang memadai.
dr. Oryza Satria, Spesialis Ortopedi Konsultan Hand & Microsurgery Rumah Sakit Pondok Indah, mengungkapkan bahwa kasus cedera akibat padel meningkat cukup signifikan. Keluhan terbanyak dialami pada bagian tubuh dari bahu hingga pergelangan tangan.
“Kalau ada pasien datang dengan keluhan di bahu sampai pergelangan tangan, hampir bisa dipastikan ia pemain padel,” ujar dr. Oryza.
Berdasarkan pengamatannya, dari setiap 10 pemain padel, lebih dari 50% mengalami cedera pada siku, lutut, bahu, hingga pinggang bawah. Cedera ini terbagi menjadi dua kategori:
- Cedera akut – biasanya terjadi pada pergelangan kaki dan lutut, akibat gerakan tiba-tiba yang menghentikan beban secara mendadak.
- Cedera kronis – sering muncul pada bahu dan siku, karena gerakan ringan yang dilakukan berulang kali dalam jangka waktu lama.
“Itu sekitar 50% lebih paling umum terjadi di siku, lutut, bahu, dan pinggang bawah,” jelasnya.
Cara Bermain Padel dengan Aman

Menurut Oryza, agar tetap aman dalam bermain padel, diperlukan pemahaman terkait teknik dasar dan pemilihan perlengkapan yang sesuai. Untuk meminimalisir risiko, pemanasan serta conditioning otot wajib dilakukan sebelum permainan dimulai.
Oryza juga menyarankan penggunaan sepatu khusus padel atau tenis yang memiliki bantalan baik sangat penting, terutama bagi pemain dengan kondisi obesitas. Raket yang terlu berat juga sebaiknya dihindari karena dapat menambah beban pada siku dan pergelangan tangan.
Selain itu, ia juga menyarankan agar frekuensi bermain padel disesuaikan dengan kemampuan tubuh.
“Untuk perempuan cukup dua hingga tiga kali dalam seminggu, sisanya bisa jalankan aktivitas olahraga yang lebih ringan,’ sebut Oryza.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk berlatih menguakan otot dengan latihan lain, seperti lari atau gym, sebelum memulai bermain padel dengan intensitas tinggi. Bagi pemula, Oryza hanya menyarankan aktivitas olahraga ini sebanyak dua kali dalam seminggu, kemudian menaik secara bertahap.
Cara Penanganan Cedera Setelah Main Padel
Menurut Oryza, cedera akibat bermain padel bisa ditandai dengan rasa nyeri, kaku, keterbatasan, gerak, hingga muncuknya bunyi ‘klik’ pada sendi. Ketika mengalami cedera, hal pertama yang harus diterapkan adalah prinsip PRICE.
Metode PRICE atau Protection, Rest, Ice, Compression, Evaluation, bisa membantu meredakan gejala awal cedera, sebelum mendapatkan pertolongan medis.
Namun, jika cedera berat, Oryza mengharuskan untuk berkonsultasi kepada ahli sehingga bisa mendapatkan penanganan yang tepat.
Meskipun padel membawa manfaat dan terasa menyenangkan, kewaspadaan tetap diperlukan. Oryza mengingatkan, bagi orang yang memiliki masalah sendi berat, riwayat penyakit jantung, atau obesitas dengan komplikasi perlu berhati-hati saat bermain padel.
Ia juga menyebut, orang dengan obesitas lebih berisiko tinggi terkena cedera seperti terkilir dan nyeri lutut.
“Mencegah cedera itu lebih baik. Latihan teknik yang benar, pemanasan, serta conditioning harus dilakukan sebelum main,” tegasnya.