
Sophrology – Anda mungkin pernah mengenal seseorang yang mengalami stroke dan bahkan berhasil pulih darinya. Namun, apa sebenarnya stroke, dan mengapa ini penting untuk diwaspadai?
Stroke adalah penyebab kematian kelima di Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi ketika pasokan darah ke otak terhambat atau terjadi pendarahan tiba-tiba di dalam otak.
Ada dua jenis utama stroke:
- Stroke iskemik – terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otak.
- Stroke hemoragik – terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak, menyebabkan pendarahan.
Kedua kondisi ini dapat menghentikan pasokan oksigen ke sel-sel otak, yang berisiko menyebabkan kerusakan otak, kecacatan, atau bahkan kematian.
Meskipun sering dikaitkan dengan orang lanjut usia, stroke juga bisa menyerang usia muda. Dr. Paul Lleva, M.D., FAAN, direktur layanan stroke di Rumah Sakit White Plains, menyatakan bahwa rumah sakitnya kini menangani lebih banyak pasien berusia di bawah 50 tahun yang mengalami stroke.
Kabar baiknya, stroke dapat dicegah dengan menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat, menurut Michelle Routhenstein, M.S., RD, CDCES, seorang ahli diet spesialis kardiologi dan pendiri Entirely Nourished.
Aktif Secara Fisik

Tekanan darah tinggi adalah salah satu faktor risiko utama stroke. Menjaga tekanan darah dalam kisaran sehat serta meningkatkan kesehatan pembuluh darah sangat penting, ujar Srihari S. Naidu, M.D., FACC, FAHA, profesor kedokteran di New York Medical College.
Menurut Pedoman Aktivitas Fisik untuk Orang Amerika, target yang baik adalah melakukan setidaknya 150 menit aktivitas intensitas sedang atau 75 menit aktivitas berat per minggu.
Namun, hal ini tidak berarti harus berolahraga berjam-jam di pusat kebugaran. Dr. Edo Paz, wakil presiden senior urusan medis di Hello Heart, menyarankan untuk tetap aktif dengan cara sederhana.
“Gunakan tangga, parkir sedikit lebih jauh dari kantor, atau berjalan kaki selama 10 menit. Aktivitas kecil seperti ini sudah membantu menjaga kesehatan,” katanya.
Hindari Natrium Berlebih

Konsumsi natrium berlebih dapat meningkatkan risiko stroke dengan menaikkan tekanan darah. Sayangnya, banyak orang mengonsumsi natrium dalam jumlah berlebihan tanpa disadari.
Sebagian besar natrium yang dikonsumsi berasal dari makanan kemasan, makanan restoran, atau makanan siap saji. Saat makan atau memesan makanan di luar, perhatikan kata-kata seperti “acar,” “diasapi,” “dihitamkan,” atau “kaldu berbasis tomat”, karena ini sering kali menunjukkan kadar natrium yang tinggi.
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi asupan natrium adalah memasak lebih banyak di rumah. Alexa Marks, RD, CDN, kepala ahli diet di Gaylord Specialty Healthcare, menyarankan menggunakan emulsi minyak dan cuka sebagai alternatif sehat untuk saus salad kemasan, karena lebih rendah natrium dan lemak.
Selain itu, Marks merekomendasikan rempah-rempah alami seperti paprika, kayu manis, dan kunyit, yang tidak hanya kaya rasa tetapi juga memiliki berbagai manfaat kesehatan.
Menggunakan bumbu bebas sodium, seperti bubuk bawang putih, bubuk bawang bombai, atau pengganti garam rendah natrium, dapat menjadi solusi sehat untuk menambah cita rasa makanan tanpa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Kurangi Merokok

“Tembakau merusak pembuluh darah dan membuatnya lebih mungkin mengembangkan plak kolesterol dan penyumbatan, yang dapat menurunkan aliran darah ke otak,” kata Naidu.
Namun, berhenti merokok bukanlah hal yang mudah. Jika Anda merokok, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda, yang dapat membantu Anda menemukan perawatan, strategi, dan dukungan untuk membantu Anda berhenti merokok.
Perbanyak Serat

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi serat yang lebih tinggi dapat menurunkan risiko stroke. Hal ini karena serat membantu menjaga tekanan darah, mengontrol kolesterol, dan meningkatkan sensitivitas insulin, yang semuanya berperan dalam pencegahan stroke.
Serat dapat diperoleh dari berbagai sumber alami seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan lentil.
Cara mudah untuk memenuhi kebutuhan serat harian yang disarankan, yaitu 28 hingga 34 gram per hari, adalah dengan mengisi setengah piring dengan buah dan sayuran, serta seperempat piring lainnya dengan biji-bijian utuh.
Perbanyak Makan Ikan
Lemak omega-3 rantai panjang DHA dan EPA memberikan banyak manfaat bagi kesehatan kardiovaskular, termasuk melindungi dari stroke. Keduanya sangat ampuh sehingga satu analisis dari 29 penelitian menemukan bahwa orang dengan asupan EPA tertinggi memiliki kemungkinan 17% lebih kecil untuk mengalami stroke.
Demikian pula, mereka dengan konsumsi DHA terbesar memiliki kemungkinan 12% lebih kecil untuk mengalami stroke.
Meskipun semua ikan baik untuk Anda, hanya segelintir yang menyediakan EPA dan DHA dalam jumlah yang cukup. Ikan-ikan tersebut adalah salmon, makerel, ikan teri, sarden, dan ikan haring. Mengonsumsi dua porsi ikan berlemak ini seminggu dapat membantu Anda memperoleh cukup banyak DHA dan EPA.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa ini mungkin tidak cukup, karena sebagian besar dari kita memiliki kadar omega-3 yang rendah. Jika Anda belum mengonsumsi setidaknya dua porsi ikan berlemak per minggu, campuran ikan berlemak dan suplemen omega-3 dapat meningkatkan kadarnya.
Jadi, konsultasikan dengan dokter Anda untuk menemukan strategi omega-3 terbaik untuk kebutuhan kesehatan unik Anda.
Kurangi Alkohol

Bagi banyak dari kita, segelas anggur atau koktail adalah salah satu kenikmatan hidup yang sederhana. Meskipun Anda tidak harus berhenti minum, moderasi adalah kunci utama dalam mencegah stroke (maksimum satu gelas sehari untuk wanita, dua gelas untuk pria). Mengapa?
Konsumsi alkohol dapat menyebabkan sleep apnea, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya fibrilasi atrium. Irama jantung yang tidak teratur ini dapat menyebabkan darah mengumpul, membentuk gumpalan, dan mengalir ke otak, yang dapat menyumbat aliran darah dan menyebabkan stroke.
Hindari Stress Berlebihan
Kehidupan sehari-hari membawa berbagai pengalaman, baik positif maupun menantang, yang dapat memicu stres. Namun, jika stres menjadi kronis, hal ini dapat membuat jantung bekerja lebih keras, meningkatkan tekanan darah, kadar gula, dan lemak dalam darah, yang semuanya merupakan faktor risiko stroke.
Menemukan cara yang efektif untuk mengelola stres sangat penting. Beberapa metode yang dapat membantu meliputi meditasi, latihan pernapasan dalam, yoga, atau menekuni hobi yang menyenangkan.
Selain itu, berkonsultasi dengan terapis dapat membantu mengidentifikasi akar penyebab stres dan mengembangkan strategi penanganan yang lebih baik. Dengan begitu, Anda tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga kesejahteraan mental.