
Sophrology – Selama ini kanker paru-paru identik dengan kebiasaan merokok. Namun, faktanya penyakit mematikan ini juga dapat menyerang orang yang sama sekali tidak pernah merokok. Hal ini diungkapkan oleh Spesialis Kanker dari Onco Care, dr. Akhil Chopra, yang menyoroti meningkatnya kasus kanker paru-paru pada pasien non-perokok di Asia.
Menurut dr. Akhil Chopra, kanker paru-paru kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. “Kanker paru biasanya tidak bergejala. Bergantung pada lokasi tumornya, seseorang bisa saja tidak merasakan apa-apa sampai ukurannya besar atau bahkan sudah menyebar,” jelasnya dalam perbincangan dengan Health Anugerahslot belum lama ini.
Ia menambahkan, jika tumor tumbuh di bagian tengah paru, dekat saluran pernapasan, gejala yang muncul bisa berupa batuk menetap. Sebaliknya, bila tumor berkembang di bagian luar paru, pasien sering kali baru menyadarinya ketika kanker sudah menyebar luas. “Itu sebabnya banyak kasus baru diketahui saat sudah stadium lanjut,” kata dr. Chopra.
Kanker Paru-Paru pada Non-Perokok, Tantangan Baru di Asia

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru-paru adalah banyaknya kasus yang dialami pasien non-perokok. Meski menjalani gaya hidup sehat dan tidak pernah terpapar rokok, sebagian orang tetap divonis mengidap penyakit ini.
“Pasien non-perokok juga bisa terkena kanker paru-paru. Di Singapura, bahkan sedang dilakukan penelitian besar dengan dana sekitar 25 juta dolar untuk mencari cara mendeteksi kanker paru lebih awal pada kelompok ini,” jelas dr. Akhil Chopra, Spesialis Kanker dari Onco Care.
Menurutnya, selain faktor genetik atau riwayat keluarga, polusi udara menjadi penyebab utama lain yang tidak boleh diabaikan. “Di negara-negara seperti Indonesia dan India, polusi udara kini tercatat sebagai penyebab nomor dua kanker paru setelah rokok,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kanker paru-paru bukan hanya ancaman bagi perokok, tetapi juga bagi masyarakat luas yang sehari-hari terpapar kualitas udara buruk. Karena itu, kesadaran akan deteksi dini serta upaya menjaga lingkungan bersih semakin penting untuk menekan risiko penyakit mematikan ini.
Kapan Batuk Perlu Diwaspadai sebagai Gejala Kanker Paru?

Batuk merupakan salah satu gejala kesehatan yang sangat umum, dan sebagian besar bukan disebabkan oleh kanker paru-paru. Menurut Spesialis Kanker dari Onco Care, dr. Akhil Chopra, batuk akibat infeksi biasanya membaik dalam waktu tiga hingga empat minggu.
“Jika batuk menetap lebih dari sebulan, sebaiknya segera periksa ke dokter. Minimal lakukan pemeriksaan rontgen dada,” tegas dr. Chopra.
Ada beberapa tanda batuk yang perlu dicurigai berkaitan dengan kanker paru-paru, di antaranya:
- Batuk berdarah, yang merupakan tanda serius dan harus segera ditangani.
- Batuk disertai suara serak, yang bisa terjadi bila kanker sudah mengenai pita suara.
- Batuk dengan gejala tambahan seperti nyeri dada, sesak napas, penurunan berat badan, atau mudah lelah.
“Batuk karena infeksi biasanya hanya terasa mengganggu, tapi kondisi tubuh secara keseluruhan tetap baik. Sementara batuk akibat kanker sering kali disertai keluhan tambahan, seperti sesak, berat badan menurun, dan cepat lelah,” jelas dr. Chopra.
Banyak Pasien Indonesia Berobat Kanker Paru ke Singapura, Terapi Kini Semakin Canggih
Spesialis Kanker dari Onco Care, dr. Akhil Chopra, mengungkapkan bahwa pasien asal Indonesia mendominasi jumlah penderita kanker paru-paru yang datang berobat ke kliniknya. “Pasien saya paling banyak justru dari Indonesia, dan kebanyakan kasusnya kanker paru-paru. Jumlahnya seimbang antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Sebagian pasien datang setelah menjalani tes awal di Indonesia, kemudian melanjutkan pemeriksaan biopsi di Singapura. Namun, ada juga pasien yang datang hanya karena keluhan umum seperti lemas atau penurunan berat badan, dan baru diketahui mengidap kanker paru-paru. “Bahkan ada pasien perokok berat yang awalnya ikut pemeriksaan karena diminta istrinya. Setelah dicek, ternyata ada kanker paru,” tambah dr. Chopra.
Kabar baiknya, terapi kanker paru-paru saat ini berkembang jauh lebih maju dibanding satu dekade lalu. Menurut dr. Chopra, sekitar separuh kasus kanker paru-paru di Asia memiliki mutasi gen yang dapat ditargetkan dengan obat-obatan khusus.
“Kami sekarang punya obat-obatan yang efektif, bahkan sudah tersedia hingga generasi kedua dan ketiga. Ada juga imunoterapi generasi terbaru yang sudah tersedia di Indonesia,” jelasnya.
Selain obat-obatan, teknologi medis modern juga menghadirkan pilihan terapi lain. Operasi paru kini bisa dilakukan dengan teknik robotik yang minim sayatan, sementara proton radiation mampu menghancurkan tumor tanpa merusak jaringan paru sehat di sekitarnya.
“Bagi pasien lanjut usia yang tidak memungkinkan menjalani operasi karena risiko bius, terapi radiasi generasi baru ini menjadi pilihan yang lebih aman,” tutur dr. Chopra.
Terapi Modern Tingkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker Paru Stadium 4
Dahulu, pasien kanker paru-paru stadium 4 rata-rata hanya dapat bertahan hidup kurang dari satu tahun. Namun, kemajuan terapi medis dalam beberapa tahun terakhir membawa harapan baru dengan masa hidup yang jauh lebih panjang.
Menurut Spesialis Kanker dari Onco Care, dr. Akhil Chopra, pasien dengan mutasi gen tertentu kini memiliki prognosis yang lebih baik. “Pada pasien kanker paru dengan mutasi EGFR, bahkan di stadium 4, angka harapan hidup bisa mencapai 4–5 tahun. Sedangkan pasien dengan mutasi ALK, yang mencakup sekitar 2–4 persen kasus, bisa bertahan lebih dari 10 tahun hanya dengan terapi tablet,” jelasnya.
Hal ini semakin berarti karena kasus ALK-positif kerap ditemukan pada pasien usia muda, yakni 30–40 tahun. Dengan adanya terapi terbaru, pasien tetap bisa melanjutkan aktivitas sehari-hari, bekerja, merawat keluarga, serta menikmati hidup lebih lama dengan kualitas yang baik.