
Sophrology – Obesitas tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga erat kaitannya dengan kesehatan mental. Sebaliknya, gangguan mental pun dapat memicu terjadinya obesitas.
Ketua Pokja Pengurus Pusat Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Dr. dr. Sony Wibisono, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, menjelaskan bahwa hubungan keduanya bersifat timbal balik.
“Gangguan kesehatan mental bisa menyebabkan obesitas, dan obesitas juga dapat memicu masalah mental,” ujar Sony kepada Anugerahslot health saat ditemui di Surabaya, Minggu (24/8/2025).
Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum PP PERKENI, Em Yunir. Ia menegaskan bahwa obesitas kerap berdampak pada kondisi psikologis penderitanya.
“Obesitas pasti berkaitan dengan kesehatan mental. Di titik tertentu, ketika pasien merasa kewalahan dengan berat badannya, mereka cenderung menarik diri dari kehidupan sosial, bahkan sampai mengurung diri,” kata Yunir dalam media briefing bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Menurut Yunir, kondisi ini bukan hanya karena kesulitan bergerak akibat berat badan berlebih, tetapi juga rasa malu yang dialami penderita. Hal tersebut sering berujung pada gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan.
Di sisi lain, masalah mental justru bisa memperburuk kondisi obesitas. Stres, misalnya, sering kali membuat seseorang mencari pelarian melalui makanan.
“Sekarang akses makanan semakin mudah. Kalau dulu orang harus keluar rumah, kini cukup dengan telepon atau aplikasi, makanan sudah datang,” tambah Yunir.
Dampak Serius Obesitas terhadap Kesehatan dan Ekonomi

Obesitas bukan sekadar masalah berat badan berlebih, tetapi juga memicu berbagai komplikasi medis. Kondisi ini dapat menyebabkan hiperglikemia, diabetes tipe 2, hingga penyakit kardiovaskular, bahkan berujung pada kematian.
Menurut penelitian, setiap kenaikan 5 unit indeks massa tubuh (IMT) di atas 25 kg/m² meningkatkan risiko kematian hingga 30 persen. Secara global, obesitas bertanggung jawab atas sekitar 4,7 juta kematian dini setiap tahun.
Di Indonesia, beban ekonomi akibat penyakit tidak menular terkait obesitas sangat besar. Data BPJS Kesehatan 2022 mencatat, biaya pelayanan kesehatan akibat obesitas diperkirakan mencapai lebih dari Rp24 triliun per tahun.
Secara medis, obesitas tergolong kondisi kronis yang memperparah penyakit lain, antara lain:
- Diabetes tipe 2 melalui resistensi insulin dan sulitnya mencapai kontrol glikemik.
- Penyakit kardiovaskular dengan meningkatnya risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung.
- Dislipidemia dan penyakit hati berlemak yang memperburuk kondisi kesehatan.
Meski demikian, penanganan obesitas terbukti efektif. Tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga mampu mencegah dan memperbaiki komplikasi, bahkan dalam beberapa kasus dapat membawa pasien diabetes tipe 2 pada kondisi remisi sehingga kebutuhan obat berkurang atau bahkan bisa dihentikan.
Konsultasi dengan Dokter, Langkah Penting bagi Penderita Obesitas

Clinical, Medical, and Regulatory Director Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menekankan pentingnya konsultasi dengan tenaga medis bagi masyarakat yang mengalami obesitas.
“Hal paling utama adalah berdiskusi dengan dokter. Banyak orang sadar dirinya obesitas, tapi merasa baik-baik saja karena tidak ada gejala,” ujar Riyanny kepada Health Liputan6.com.
Menurutnya, anggapan tersebut keliru. Tidak merasakan gejala bukan berarti tubuh dalam kondisi sehat. “Sering kali masalah akibat obesitas baru terlihat melalui hasil pemeriksaan laboratorium, bukan dari gejala fisik,” tambahnya.
Karena itu, pemeriksaan medis rutin sangat disarankan untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang mungkin tersembunyi, sekaligus menentukan penanganan obesitas yang tepat sejak dini.