
Sophrology – Pemerintah Singapura semakin memperketat pengendalian peredaran rokok elektrik atau vape. Perangkat yang mengandung zat berbahaya, termasuk etomidate, kini dikategorikan sebagai tindak pidana narkotika.
Kebijakan ini dikeluarkan setelah otoritas kesehatan menemukan bahwa sekitar sepertiga vape ilegal mengandung etomidate, yaitu zat anestesi yang bisa menimbulkan halusinasi serta berpotensi merusak organ tubuh bila disalahgunakan.
Padahal, tanpa kandungan etomidate sekalipun, vape tetap membawa risiko kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian orang beralih ke rokok elektrik dengan anggapan lebih aman dibanding rokok tembakau. Namun, para ahli menegaskan bahwa penggunaan vape tetap tidak bebas bahaya.
“Vape tak lepas dari risiko kesehatan, termasuk kemungkinan memicu penyakit paru langka seperti popcorn lung,” jelas dr. Maria Dewi Caetline, Sp.P, dokter spesialis paru dan pernapasan RS EMC Cikarang & Cibitung, mengutip laman Anugerahslot EMC, Jumat (22/8/2025).
Popcorn lung atau bronchiolitis obliterans merupakan kondisi yang menyerang saluran udara kecil (bronkiolus) akibat peradangan dan kerusakan. Penyakit ini dapat muncul akibat paparan zat kimia berbahaya, termasuk dari uap rokok elektrik maupun bahan kimia industri tertentu.
Meskipun tergolong langka dan tidak menular, popcorn lung bisa berkembang cepat serta menimbulkan gangguan pernapasan serius jika tidak segera ditangani.
Apa Penyebab Popcorn Lung?

Nama popcorn lung berasal dari kasus pertama yang ditemukan pada pekerja pabrik popcorn.
Mereka terpapar uap diacetyl, yaitu bahan kimia perasa mentega buatan yang digunakan dalam produk popcorn. Meski aman jika tertelan, diacetyl bisa membahayakan paru-paru bila dihirup dalam jangka panjang.
Selain diacetyl, berbagai bahan kimia berbahaya lainnya juga berpotensi menyebabkan popcorn lung, seperti:
- Acetaldehyde.
- Sulfur mustard.
- Ammonia.
- Sulfur dioxide.
- Chlorine.
- Formaldehyde.
- Hydrochloric acid.
- Fumes from metal oxides.
- Nitrogen oxides.
Faktor Risiko Popcorn Lung
Ada sejumlah kondisi tertentu yang dapat memperbesar kemungkinan seseorang terkena popcorn lung, antara lain:
- Mengidap infeksi pernapasan
- Mengidap penyakit autoimun
- Mengidap sindrom Stevens-Johnson
- Pernah menjalani transplantasi organ atau sumsum tulang
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti penicillamine.
Apa Saja Gejala Popcorn Lung?
Popcorn lung dapat menimbulkan berbagai keluhan pada sistem pernapasan. Gejala biasanya mulai muncul dua hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar zat kimia penyebabnya, dan bisa berkembang secara bertahap maupun cepat memburuk.
Beberapa gejala yang umum dialami antara lain:
- Sesak napas
- Batuk kering
- Lemas
- Mengi
- Demam
- Turun berat badan
- Berkeringat saat malam hari
- Sulit tidur
- Iritasi pada hidung, mata, serta mulut.
Berbeda dengan gejala asma yang bisa hilang timbul, keluhan akibat popcorn lung cenderung berlangsung terus-menerus dan bisa semakin parah tanpa pengobatan yang tepat.
Bagaimana Cara Meredakan Gejala Popcorn Lung?

Hingga saat ini, popcorn lung belum dapat disembuhkan secara tuntas. Namun, beberapa pilihan pengobatan tersedia untuk meringankan gejala dan memperlambat kerusakan paru-paru.
Berikut beberapa metode penanganan yang umum diberikan:
Obat-obatan
Dokter dapat meresepkan obat-obatan sesuai gejala dan tingkat keparahan, seperti:
- Kortikosteroid, untuk mengurangi peradangan di saluran napas
- Antibiotik, jika terdapat infeksi seperti pneumonia atau bronkitis
- Bronkodilator seperti salbutamol, untuk membantu pernapasan
- Antitusif, seperti dextromethorphan, untuk meredakan batuk kering
Oksigen
Pada kasus berat, pasien mungkin memerlukan terapi oksigen tambahan atau penggunaan ventilator untuk membantu pernapasan.
Fisioterapi
Latihan fisik atau fisioterapi pernapasan bisa membantu memperkuat paru-paru dan meningkatkan kualitas hidup. Program ini biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Transplantasi paru
Jika kondisi paru-paru sudah rusak berat, transplantasi bisa dipertimbangkan sebagai langkah penanganan akhir. Namun, tindakan ini hanya dipertimbangkan bila pasien memenuhi syarat tertentu, termasuk tidak memiliki riwayat transplantasi organ lain sebelumnya.
Selain pengobatan medis, pengidap juga disarankan untuk:
- Berhenti merokok dan vaping
- Menghindari paparan bahan kimia berbahaya
Upaya ini penting dilakukan guna menghambat perburukan kondisi paru-paru.
Kondisi popcorn lung dapat tetap terkontrol melalui penanganan medis, meskipun belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan. Sayangnya, penyakit ini bisa semakin memburuk seiring waktu, terutama jika tidak segera ditangani.
Bila dibiarkan, popcorn lung dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:
- Infeksi paru yang berulang.
- Kerusakan paru permanen.
- Gagal napas.
- Risiko kematian
“Oleh karena itu, bila Anda mengalami gejala yang mengarah ke popcorn lung, segera periksakan diri ke dokter spesialis paru. Penanganan sejak dini dapat membantu mengurangi keparahan gejala dan mencegah kerusakan paru yang lebih lanjut,”pungkas Maria.